ASUHAN
KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN BIOLOGIS
2.1
Pengertian Lansia
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia,
merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan
dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami
banyak perubahan baik secara fisik maupun mental,
khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah
dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuaan normal,
seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di
wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan
tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka
harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial,
serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut
kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak
(Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua
adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya
kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam
hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia
mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup
berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki
selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa
orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan
mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965
adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah
sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang
lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia
diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima
sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri
dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
pengertian lansia digolongkan menjadi 4, yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) 45
-59 tahun
2. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
3. Lanjut usia tua (old) 75 – 90
tahun
4. Lansia sangat tua (very old)
diatas 90 tahun.
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia
60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan
terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi
(Constantinides, 1994).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses
penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN
1998).
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang
mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya
daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur
dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995)
masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan
keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan
kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan
manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak
memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang
homogen. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia
lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi
manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan
untuk tumbuh berkembang dan bertekad berbakti . Ada juga lanjut usia yang
memandang usia tua dengan sikap- sikap yang berkisar antara kepasrahan
yang pasif dan pemberontakan, penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi
terkunci dalam diri mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses
kemerosotan jasmani dan mental mereka sendiri.
Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat
ditinjau dari pendekatan kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis
merupakan usia seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari berbagai
aspek pengelompokan lanjut usia yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis,
karena batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan, karena informasi tentang
usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.
Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan
bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang
berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari
nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari. Saparinah (1983)
berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang
mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya
tahan tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan
timbul perubahan-perubahan dalam hidupnya.
2.2
Ciri-ciri Lansia
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa
ciri-ciri orang lanjut usia,yaitu:
a. Usia lanjut merupakan periode
kemunduran
Kemunduran
pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis.
Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang
penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat
apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang
kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Orang lanjut usia memiliki status
kelompok minoritas
Lansia
memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang
tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh
pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu
seperti: lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya dari pada
mendengarkan pendapat orang lain.
c. Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan
peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala
hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan
sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan
yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung mengembangkan
konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk.
Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi
buruk.
2.3
Teori Proses Menua
Proses
menua bersifat individual:
1. Tahap proses menua terjadi pada
orang dengan usia berbeda.
2. Setiap lanjut usia mempunyai
kebiasaan yang berbeda.
3. Tidak ada satu faktor pun yang
ditemukan dapat mencegah proses menua.
Teori
Biologis
Teori genetic clock. Teori
ini merupakan teori intrinsic yang menjelaskan bahwa di dalam tubuh terdapat
jam biologis yang mengatur gen dan menentukan proses penuaan. Teori ini
menyatakan bahwa menua itu telah terprogram secara genetic untuk spesies
tertentu. Setiap spesies di dalam inti selnya memiliki suatu jam genetik/jam
biologis sendiri dan setiap spesies mempunyai batas usia yang berbeda-beda yang
telah diputar menurut replikasi tertentu sehingga bila jenis ini berhenti
berputar, ia akan mati.
Teori
mutasi somatik. Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya
mutasi somatik akibat pengaruh lingkungan yang buruk. Terjadi kesalahan dalam
proses transkripsi DNA atau RNA dan dalam proses translasi RNA protein/enzim.
Kesalahan ini terjadi terus menerus sehingga akhirnya akan terjadi penurunan
fungsi organ atau perubahan sel menjadi kanker atau penyakit. Setiap sel pada
saatnya akan mengalami mutasi, sebagai contoh yang khas adalah mutasi sel
kelamin sehingga terjadi penurunan kemampuan fungsional sel (Suhana, 1994;
Constantinides, 1994).
Teori
Nongenetik
Teori penurunan sistem imun tubuh (auto-immune theory). Mutasi yang berulang dapat menyebabkan berkurangnya
kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri. Jika mutasi yang merusak
membran sel, akan menyebabkan sistem imun tidak mengenalinya sehingga
merusaknya. Hal inilah yang mendasari peningkatan penyakit auto-imun pada
lanjut usia (Goldstein, 1989). Dalam proses metabolisme tubuh, diproduksi suatu
zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut
sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh, tambahan
kelenjar timus yang pada usia dewasa berinvolusi dan sejak itu terjadi kelainan
auto-imun.
Teori
kerusakan akibat radikal bebas (free radical theory). Teori
radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas dan di dalam tubuh karena adanya
proses metabolisme atau proses pernapasan di dalam mitokondria. Radikal bebas
merupakan suatu atom atau molekul yang tidak stabil karena mempunyai electron
yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif mengikat atom atau molekul lain
yang menimbulkan berbagai kerusakan atau perubahan dalam tubuh. Tidak stabilnya
radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan organik,
misalnya karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini menyebabkan sel tidak dapat
beregenerasi (Halliwel, 1994). Radikal bebas dianggap sebagai penyebab penting
terjadinya kerusakan fungsi sel. Radikal bebas yang terdapat di lingkungan
seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, zat pengawet makanan, radiasi,
sinar ultraviolet yang mengakibatkan terjadinya perubahan pigmen dan kolagen
pada proses menua.
Teori
menua akibat metabolisme. Telah dibuktikan dalam berbagai percobaan
hewan, bahwa pengurangan asupan kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan
memperpanjang umur, sedangkan perubahan asupan kalori yang menyebabkan
kegemukan dapat memperpendek umur (Bahri dan Alem, 1989; Boedhi Darmojo, 1999).
Teori
rantai silang (cross link theory). Teori ini menjelaskan bahwa
menua disebabkan oleh lemak, protein, karbohidrat, dan asam nukleat (molekul
kolagen) bereaksi dengan zat kimia dan radiasi, mengubah fungsi jaringan yang
menyebabkan perubahan pada membrane plasma, yang mengakibatkan terjadinya
jaringan yang kaku, kurang elastis, dan hilangnya fungsi pada proses menua.
Teori
Fisiologis. Teori ini merupakan teori intrinsik dan ekstrinsik.
Terdiri atas teori oksidasi stress, dan teori dipakai-aus (wear and tear
theory). Di sini terjadi kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel tubuh
lelah dipakai (regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kstabilan
lingkungan eksternal).
2.4
Perubahan Biologis Pada Lansia
Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua.
Dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami perubahan dengan makin
bertambahnya umur. Menurut Nugroho (2000) perubahan fisik yang terjadi pada
lansia adalah sebagai berikut:
a. Sel
1. Jumlah sel menurun/menjadi
sedikit.
2. Ukuran sel lebih besar.
3. Berkurangnya cairan tubuh dan
cairan intra seluler.
4. Menurunnya proporsi protein di
otak, otot, ginjal, dan hati.
5. Jumlah sel otak menurun.
6. Terganggunya mekanisme perbaikan
sel.
7. Otak menjadi atrofi, beratnya
berkurang 5-10%.
8. Lekukan otak akan menjadi lebih
dangkal dan melebar.
b. Sistem Respirasi
1. Otot pernafasan mengalami
kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku.
2. Aktivitas silia menurun.
3. Paru kehilangan elastisitas,
kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan
maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun.
4. Ukuran alveoli melebar (membesar
secara progresif) dan jumlah berkurang.
5. Berkurangnya elastisitas bronkus.
6. Oksigen pada arteri menurun
menjadi 75 mmHg.
7. Karbondioksida pada arteri tidak
berganti. Pertukaran gas terganggu.
8. Refleks dan kemampuan untuk batuk
berkurang.
9. Sensitivitas terhadap hipoksia dan
hiperkarbia menurun.
10. Sering terjadi emfisema senilis.
11. Kemampuan pegas dinding dada dan
kekuatan otot pernafasan menurun seiring pertambahan usia.
c. Sistem Kardiovaskuler
1. Katup jantung menebal dan menjadi
kaku.
2. Elastisitas dinding aorta menurun
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun
1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan kontraksi dan
volume menurun (frekuensi denyut jantung maksimal= 200-umur)
4. Curah jantung menurun.
5. Kehilangan sensitivitas dan
elastisitas pembuluh darah, efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
berkurang, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa
menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65mmHg (mengakibatkan pusing
mendadak).
6. Kinerja jantung lebih rentan
terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan.
7. Tekanan darah meninggi akibat
meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistol normal ±170 mmHg,
diastol normal ± 95 mmHg.
d. Sistem Persarafan
1. Respon menjadi lambat dan hubungan
antara persyarafan menurun.
2. Berat otak menurun 10-20% (sel
saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya).
3. Mengecilnya saraf panca indra
sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran,
mengecilnya saraf penciuman dan perasa, lebih sensitif terhadap suhu, ketahanan
tubuh terhadap dingin rendah.
4. Kurang sensitif terhadap sentuhan.
5. Defisit memori.
e. Sistem Pencernaan
1. Kehilangan gigi, penyebab
utama periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30
tahun. Penyebab lain meliputi kesehatan gigi dan gizi yang buruk.
2. Indra pengecap menurun, adanya
iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi indra pengecap (±80%), hilangnya
sensitivitas saraf pengecap di lidah, terutama rasa manis dan asin, hilangnya
sensitivitas saraf pengecap terhadap rasa asin, asam, dan pahit.
3. Esofagus melebar.
4. Rasa lapar menurun (sensitivitas
lapar menurun), asam lambung menurun, motilitas dan waktu pengosongan lambung
menurun.
5. Peristaltik lemah dan biasanya
timbul konstipasi.
6. Fungsi absorbsi melemah (daya
absorbsi terganggu, terutama karbohidrat).
7. Hati semakin mengecil dan tempat
penyimpanan menurun, aliran darah berkurang.
f. Sistem Genitourinaria
1. Ginjal merupakan alat untuk
mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke ginjal,
disaring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya
di gromerulus). Mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal
menurun sampai 50% sehingga fungsi tubulus berkurang. Akibatnya, kemampuan mengonsentrasi
urine menurun, berat jenis urine menurun, proteinuria (biasanya +1), BUN (blood
urea nitrogen) meningkat sampai 21 mg%, nilai ambang ginjal terhadap
glukosa meningkat. Keseimbangan elektrolit dan asam lebih mudah terganggu bila
dibandingkan dengan usia muda.Renal plasma flow (RPF) dan glomerular
filtration rate (GFR) atau klirens kreatinin menurun secara linier
sejak usia 30 tahun. Jumlah darah yang difiltrasi oleh ginjal berkurang.
2. Vesika urinaria. Otot menjadi
lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air
kecil meningkat. Pada pria lanjut usia, vesika urinaria sulit dikosongkan
sehingga mengakibatkan retensi urine meningkat.
3. Pembesaran prostat. Kurang lebih
75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun.
g. Sistem Muskuloskeletal
1. Tulang kehilangan densitas
(cairan) dan semakin rapuh.
2. Gangguan tulang, yakni mudah
mengalami demineralisasi.
3. Kekuatan dan stabilitas tulang
menurun, terutama vertebrata, pergelangan, dan paha. Insiden osteoporosis dan
fraktur meningkat pada area tulang tersebut.
4. Kartilago yang meliputi permukaan
sendi tulang penyangga rusak dan aus.
5. Kifosis.
6. Gerakan pinggang, lutut dan
jari-jari pergelangan terbatas.
7. Gangguan gaya berjalan.
8. Kekakuan jaringan penghubung.
9. Diskus intervertebralis menipis
dan menjadi pendek (tingginya berkurang).
10. Persensian membesar dan menjadi
kaku.
11. Tendon mengerut dan mengalami
sklerosis.
12. Atrofi serabut otot, serabut otot
mengecil sehingga gerakan menjadi lamban, otot kram, dan menjadi tremor
(perubahan pada otot cukup rumit dan sulit dipahami).
13. Komposisi otot berubah sepanjang
waktu (myofibril digantikan oleh lemak, kolagen, dan jaringan parut).
14. Aliran darah ke otot berkurang sejalan
dengan proses menua.
15. Otot polos tidak begitu
berpengaruh.
h. Sistem Penglihatan
1. Sfingter pupil timbul sklerosis
dan respons terhadap sinar menghilang.
2. Kornea lebih berbentuk sferis
(bola).
3. Lensa lebih suram (kekeruhan pada
lensa), menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan.
4. Meningkatnya ambang, pengamatan
sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam
gelap.
5. Penurunan/hilangnya daya
akomodasi, dengan manifestasi presbiopia, seseorang sulit melihat dekat yang
dipengaruhi berkurangnya elastisitas lensa.
6. Lapang pandang menurun: luas
pandangan berkurang.
7. Daya membedakan warna menurun,
terutama warna biru atau hijau pada skala.
i. Sistem Pendengaran
1. Gangguan pendengaran. Hilangnya
daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada
yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada
usia di atas umur 65 tahun.
2. Membran timpani menjadi atrofi
menyebabkan otosklerosis.
3. Terjadi pengumpulan serumen, dapat
mengeras karena meningkatnya keratin.
4. Fungsi pendengaran semakin menurun
pada lanjut usia yang mengalami ketegangan/stress.
5. Tinitus (bising yang bersifat
mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah, bisa terus menerus atau
intermitten).
6. Vertigo (perasaan tidak stabil
yang terasa seperti bergoyang atau berputar).
j. Sistem pengaturan suhu
tubuh
Pada
pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu
menetapkan suatu suhu tertentu. Kemunduran terjadi karena beberapa faktor yang
mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain:
1. Temperatur tubuh menurun
(hipotermia) secara fisiologis ±350C ini akibat metabolisme yang
menurun.
2. Pada kondisi ini, lanjut usia akan
merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat, dan gelisah.
3. Keterbatasan reflek menggigil dan
tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas
otot.
k. Sistem Reproduksi
Wanita
1. Vagina mengalami kontraktur dan
mengecil.
2. Ovarium menciut, uterus mengalami
atrofi.
3. Atrofi payudara.
4. Atrofi vulva.
5. Selaput lender vagina menurun,
permukaan menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya menjadi alkali dan terjadi
perubahan warna.
Pria
1. Testis masih dapat memproduksi
spermatozoa, meskipun ada penurunan secara berangsur-angsur.
2. Dorongan seksual menetap sampai
usia di atas 70 tahun, asal kondisi kesehatannya baik.
l. Sistem Endokrin
Kelenjar
endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksi hormon.
Hormon pertumbuhan berperan sangat penting dalam pertumbuhan, pematangan,
pemeliharaan, dan metabolisme organ tubuh. Yang termasuk hormon kelamin adalah:
1. Estrogen, progesterone, dan
testosterone yang memelihara alat reproduksi dan gairah seks. Hormon ini
mengalami penurunan.
2. Kelenjar pankreas (yang
memproduksi insulin dan sangat penting dalam pengaturan gula darah).
3. Kelenjar adrenal/anak ginjal yang
memproduksi adrenalin. Kelenjar yang berkaitan dengan hormon pria/wanita. Salah
satu kelenjar endokrin dalam tubuh yang mengatur agar arus darah ke organ
tertentu berjalan dengan baik, dengan jalan mengatur vasokontriksi pembuluh
darah. Kegiatan kelenjar adrenal ini berkurang pada lanjut usia.
4. Produksi hampir semua hormon
menurun.
5. Fungsi paratiroid dan sekresinya
tidak berubah.
6. Hipofisis: pertumbuhan hormon ada,
tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah; berkurangnya produksi
ACTH, TSH, FSH, dan LH.
7. Aktivitas tiroid, BMR (basal
metabolic rate) dan daya pertukaran zat menurun.
8. Produksi aldosteron menurun.
9. Sekresi hormon kelamin, misalnya
progesterone, estrogen, dan testosterone menurun.
m. Sistem Integumen
1. Kulit menjadi keriput dan mengkerut
akibat kehilangan jaringan lemak.
2. Permukaan kulit cenderung kusam,
kasar, dan bersisik (karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran
dan bentuk sel epidermis).
3. Timbul bercak pigmentasi akibat
proses melanogenesis yang tidak merata pada permukaan kulit sehingga tampak
berbintik-bintik atau noda cokelat.
4. Terjadi perubahan pada daerah
sekitar mata, tumbuhnya kerut-kerut halus di ujung mata akibat lapisan kulit
menipis.
5. Respons terhadap trauma menurun.
6. Mekanisme proteksi kulit menurun:
produksi serum menurun, produksi vitamin D menurun, pigmentasi kulit terganggu.
7. Kulit kepala dan rambut menipis
dan berwarna kelabu.
8. Rambut dalam hidung dan telinga
menebal.
9. Berkurangnya elastisitas akibat
menurunnya cairan dan vaskularisasi.
10. Pertumbuhan kuku lebih lambat.
11. Kuku jari menjadi keras dan
rapuh.
12. Kuku menjadi pudar, kurang
bercahaya.
13. Kuku kaki tumbuh secara
berlebihan dan seperti tanduk.
14. Jumlah dan fungsi kelenjar keringat
berkurang.
2.5 Penyakit-Penyakit
Pada Lansia
1. Sistem
Pernapasan
a. Emfisema
Emfisema
dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan struktur paru-paru dalam bentuk
pelebaran saluran napas di ujung akhir bronkus disertai dengan kerusakan dinding
alveolus. Penyakit ini termasuk dalam penyakit paru obstruktif kronik yang
menimbulkan kesulitan pengeluaran udara pernapasan. Penyakit ini bersifat
progresif dan biasanya diawali dengan sesak napas. Gejala emfisema dapat berupa
batuk yang disertai dahak berwarna putih atau mukoid, dan jika terdapat
infeksi, sputum tersebut menjadi purulen. Badan terlihat lelah, nafsu makan
berkurang, dan berat badan pasien menurun.
b. Asma
Asma
adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang menyebabkan
hiperresponsivitas jalan napas. Penyakit asma ditandai dengan 3 hal, antara
lain penyempitan saluran napas, pembengkakan, dan sekresi lendir yang berlebih
di saluran napas. Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak,
dan suara napas yang berbunyi wheezing, yang biasanya timbul secara
episodic pada pagi hari menjelang waktu subuh karena pengaruh keseimbangan
hormone kortisol yang kadarnya rendah saat pagi hari dan berbagai faktor
lainnya.
c. Pneumonia
Pneumonia
merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia. Penyakit ini
menduduki peringkat keempat penyebab kematian dan infeksi paru dan sering
merupakan penyakit terminal yang dialami lansia. Pneumonia pada lansia dapat
bersifat akut atau kronis. Gejala pneumonia bermacam-macam bergantung pada
kondisi tubuh dan jenis kuman penyebab infeksi. Beberapa tanda dan gejala
pneumonia meliputi demam, batuk, napas pendek, berkeringat, menggigil, dada
terasa berat dan nyeri saat bernapas (pleuritis), nyeri kepala, nyeri otot dan
lesu. Pada lansia, gejala dan tanda-tanda ini lebih ringan, bahkan suhu tubuh
dapat lebih rendah dari nilai normal.
d. Bronkitis
Bronkitis
merupakan peradangan membran mukosa yang melapisi bronkus dan/atau bronkiolus,
yaitu jalan napas dari trakea ke paru-paru. Bronkitis dapat dibagi menjadi 2
kategori, yaitu akut dan kronis. Bronkitis akut ditandai dengan batuk dengan
atau tanpa sputum, terdiri atas mucus yang diproduksi di saluran napas.
Sedangkan bronkitis kronis merupakan satu dari penyakit paru obstruktif kronis
dengan batuk produktif yang berlangsung sampai 3 bulan atau lebih setiap
tahunnya selama 2 tahun.
2. Sistem
Kardiovaskuler
a. Hipertensi
Hipertensi
merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kenaikan tekanan darah baik secara
lambat atau mendadak (akut). Hipertensi menetap (tekanan darah yang tinggi yang
tidak menurun) merupakan faktor risiko terjadinya stroke, penyakit jantung
koroner, gagal jantung, gagal ginjal, dan aneurisma. Meskipun peningkatan
tekanan darah relative kecil, hal tersebut dapat menurunkan angka harapan
hidup. Biasanya penyakit ini tidak memperlihatkan gejala, meskipun beberapa
pasien melaporkan nyeri kepala, lesu, pusing, pandangan kabur, muka yang terasa
panas atau telinga mendenging.
b. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Serangan
jantung biasanya terjadi jika bekuan darah menutup aliran darah di arteri
coronaria, yaitu pembuluh darah yang menyalurkan makanan ke otot jantung.
Penghentian suplai darah ke jantung akan merusak atau mematikan sebagian
jaringan otot jantung. Gejala yang sering muncul pada serangan jantung dapat
berupa rasa tertekan, rasa penuh atau nyeri yang menusuk di dada dan
berlangsung selama beberapa menit. Nyeri tersebut juga dapat menjalar dari dada
ke bahu, lengan, punggung dan bahkan dapat juga ke gigi dan rahang. Episode ini
dapat semakin sering dan semakin lama. Kadang-kadang, gejala yang timbul berupa
sesak napas, berkeringat (dingin), rasa cemas, pusing, atau mual sampai muntah.
Pada perempuan, gejala-gejala tersebut dirasa kurang menonjol. Namun, gejala
tambahan dapat timbul, berupa nyeri perut seperti terbakar, kulit dingin,
pusing, rasa ringan di kepala, dan terkadang disertai rasa lesu yang luar biasa
tanpa sebab yang jelas.
c. Gagal Jantung
Gagal
jantung sering terjadi pada umur 65 tahun atau lebih, dan insiden meningkat
pada lansia yang berumur lebih dari 70 tahun. Keadaan ini merupakan
ketidakmampuan jantung memompa darah sesuai kebutuhan fisiologis. Angka rawat
inap gagal jantung pada pasien lansia semakin bertambah dalam 20 tahun terakhir.
Gagal jantung pada usia tua biasanya disebabkan hipertensi arterial yang
memengaruhi pemompaan darah yang akhirnya menyebabkan gagal jantung atau
terjadi akibat PJK. Hipertensi dan PJK juga mengganggu curah jantung. Kelainan
katup menyebabkan gangguan ejeksi, pengisisan dan preload kronis yang diakhiri
dengan gagal jantung.
3. Sistem
Persarafan
a. Penyakit
Alzheimer
Penyakit
ini merupakan bagian dari demensia. 50-60% demensia ditimbulkan penyakit
Alzheimer. Istilah demensia digunakan untuk menggambarkan sindrom klinis dengan
gejala penurunan daya ingat dan kemunduran fungsi intelektual lainnya. Pasien
mengalami kemunduran fungsi intelektual yang bersifat menetap, yakni adanya
gangguan pada sedikitnya 3 dari 5 komponen fungsi neurologis, yang mencakup
fungsi berbahasa, mengingat, melihat, emosi, dan memahami.
b. Stroke
Stroke
terjadi bila aliran darah ke otak mendadak terganggu atau jika pembuluh darah
di otak pecah sehingga darah mengalir keluar ke jaringan otak disekitarnya.
Sel-sel otak akan mati jika tidak mendapatkan oksigen dan makanan atau akan
mati akibat perdarahan yang menekan jaringan otak sekitar. Stroke dapat dibagi
atas 2 kategori besar, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Yang pertama
terjadi akibat penyumbatan aliran darah sedangkan yang kedua karena pecahnya
pembuluh darah. Delapan puluh persen kasus stroke disebabkan oleh iskemia dan
sisanya akibat perdarahan.
c. Penyakit
Parkinson
Penyakit
Parkinson merupakan suatu penyakit saraf dengan gejala utama berupa tremor,
kekakuan otot, dan postur tubuh yang tidak stabil. Penyakit ini terjadi akibat
sel saraf (neuron) yang mengatur gerakan mengalami kematian. Ciri penyakit
Parkinson merupakan kelompok gejala yang tergabung dalam kelainan gerakan.
Empat gejala utama Parkinson adalah tremor atau gemetar di tangan, lengan,
rahang, atau kepala; kekakuan di otot atau ekstremitas; bradikinesia, atau
perlambatan gerakan; postur tubuh yang tidak stabil atau gangguan keseimbangan.
Gejala biasanya timbul secara perlahan dan semakin lama semakin parah. Pada
taraf gejala maksimal, pasien tidak dapat berjalan, berbicara, atau bahkan
melakukan suatu pekerjaan yang sederhana. Penyakit ini bersifat menahun,
progresif, tidak menular, dan tidak diturunkan.
4. Sistem
Pencernaan
a. Inkontinensia
Alvi
Keadaan
ketika seseorang kehilangan kontrolnya dalam mengeluarkan tinja, yaitu pasien
mengeluarkan tinja tidak pada waktunya, tidak dapat menahannya atau terjadi
kebocoran produk ekskresi tersebut. Mereka dengan keluhan ini dalam pergaulan
merasa tersisihkan dan rendah diri yang akhirnya dapat menimbulkan gangguan
jiwa.
b. Diare
Keadaan
ketika seseorang mengalami peningkatan frekuensi BAB lebih dari 3 kali dalam
sehari dengan konsistensi feses yang cair, terkadang terdapat ampas dan lendir.
Hal ini terjadi karena fungsi fisiologis sistem pencernaan lansia yang sudah
mulai menurun dan juga disebabkan oleh bakteri dan faktor psikologis.
5. Sistem
Perkemihan
a. Gagal Ginjal Akut
Terjadi
penurunan mendadak fungsi ginjal dalam membuang cairan dan ampas darah ke luar
tubuh. Jika ginjal tidak mampu menyaring darah, cairan dan ampas tersebut akan
menumpuk dalam tubuh. Keadaan ini dapat pulih kembali dan jika kondisi pasien
cukup baik fungsi ginjal dapat kembali normal dalam beberapa minggu, misalnya
akibat penyakit kronis seperti PJK, stroke, infeksi berat ataupun penyakit
penyerta lainnya. Tanda dan gejalanya dapat berupa penurunan jumlah pengeluaran
urine meskipun sesekali pengeluaran masih dapat terjadi, retensi air yang dapat
menimbulkan edema tungkai, mengantuk, sesak napas, lesu, bingung, kejang atau
koma pada kasus berat, dan nyeri dada akibat perikarditis. Biasanya pasien
tidak memperhatikan tanda/gejala awal ini tetapi lebih terfokus pada keluhan
penyakit penyerta.
b. Gagal Ginjal Kronis
Terjadi
penurunan fungsi ginjal yang lambat dengan tanda/gejala yang minimal. Banyak
pasien yang tidak menyadari timbulnya keadaan tersebut sampai fungsi ginjal
hanya tinggal 25%. Penyebabnya adalah diabetes dan hipertensi. Beberapa tanda
dan gejala yang mungkin dapat diketahui adalah hipertensi, penurunan berat
badan tanpa sebab yang jelas, anemia, mual dan muntah, lesu dan gelisah,
kelelahan, nyeri kepala tanpa sebab yang jelas, penurunan daya ingat, kedutan
dan kram otot, BAB berdarah, kulit kekuningan, dan rasa gatal.
c. BPH (Benign Prostat
Hiperplasia/Hipertropi)
BPH
adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia
beberapa atau semua komponen prostat, meliputi antara lain: jaringan kelenjar
dan jaringan fibromuskular yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika.
Gejala klinik terjadi oleh karena 2 hal, yaitu penyempitan uretra yang
menyebabkan kesulitan berkemih dan Retensi air kemih dalam kandung kemih yang
menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis.
Gejala klinik dapat berupa frekuensi berkemih bertambah, berkemih pada malam
hari, kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih, air kemih masih
tetap menetes setelah selesai berkemih, rasa nyeri pada waktu berkemih.
d. Inkontinensia Urine
Terjadinya
pengeluaran urine secara spontan pada sembarang waktu di luar kehendak. Keadaan
ini umum dijumpai pada lansia. Dari segi medis, inkontinensia mempermudah
timbulnya ulkus dekubitus, infeksi saluran kemih, sepsis, gagal ginjal, dan
peningkatan angka kematian.
6. Sistem
Muskuloskeletal
a. Osteoartritis
Pada
penyakit ini, rasa kaku biasanya timbul pada pagi hari setelah tidur, dan sendi
terasa nyeri jika digerakkan, tetapi dapat menghilang beberapa saat setelah
digerak-gerakan. Rasa nyeri dan kaku dapat timbul secara bergantian selama
beberapa bulan atau tahun. Peradangan ini paling bersifat asimetris.
Osteoartritis terjadi akibat ausnya sendi, yang merusak tulang rawan pada
lapisan terluar sendi karena penggunaan sendi yang berulang-ulang. Tulang yang
berdekatan akan saling bergeser sehingga menimbulkan rasa nyeri. Penyakit ini
biasanya mengenai daerah lutut dan punggung.
b. Artritis rheumatoid (arthritis
simetris)
Pada
penyakit ini, kaku pada pagi hari tidak mereda setelah 1 atau 2 jam.
Kadang-kadang kaku merupakan tanda awal penyakit ini. Peradangan sendi lain
dapat berupa nyeri dan keletihan yang semakin berat. Pembengkakan sendi pada
beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, siku, pergelangan kanan-kiri yang
terpapar secara simetris juga dimasukkan dalam criteria arthritis rheumatoid.
c. Ankylosing spondylitis
Penyakit
ini paling sering mengenai tulang belakang atau bagian lain, seperti bahu,
tangan, dan kaki, biasanya secara asimetris.
d. Psoriatic arthritis
Hingga
30% pengidap psoriasis juga akan mengalami psoriatic arthritis.
Kelainan ini biasanya bersifat asimetris, tetapi juga dapat timbul secara
simetris, menyerupai arthritis rheumatoid.
e. Pirai (gout)
Jenis
arthritis ini menimbulkan nyeri yang cukup hebat dengan terjadinya penumpukan
asam urat di sendi-sendi. Keadaan ini biasanya pertama kali mengenai ibu jari
kaki sampai berwarna kemerahan dan bengkak, tetapi juga dapat mengenai sendi
lainnya. Rasa nyeri tersebut dapat cepat berkembang.
f. Artritis pada lupus
Artritis
dapat terjadi pada lupus eritematosus, yaitu penyakit peradangan kronis
jaringan ikat yang terjadi karena sistem imunitas tubuh menyerang jaringan atau
organ pasien sendiri. Inflamasi terlihat pada berbagai sistem tubuh yang
berbeda, mencakup sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung, dan paru.
g. Peradangan sendi
Keparahan
penyakit ini dinilai berdasarkan derajat ketidakmampuan pergerakan yang
ditimbulkannya. Bagi seseorang dengan fisik yang aktif, gangguan arthritis
ringan sudah dianggap sebagai suatu bencana.
h. Osteoporosis
Keadaan
ini merupakan kondisi tulang yang keropos, rapuh, atau mudah patah. Penyebabnya
adalah perubahan kadar hormon, kekurangan kalsium dan vitamin D, dan/atau
kurangnya aktivitas fisik. Osteoporosis merupakan penyebab utama fraktur orang
dewasa terutama pada kaum perempuan.
7. Sistem
Penglihatan
a. Katarak
Katarak
merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekeruhan pada lensa mata. Katarak yang
tidak mendapatkan penanganan dapat menyebabkan glaucoma fakomorfik. Lensa mata
yang menua pada katarak dengan zonula siliaris yang lemah dapat tergeser ke
depan atau ke belakang sehingga persepsi cahaya yang memasuki mata menjadi
terganggu dan mengaburkan penglihatan seseorang. Katarak pada lansia ditandai
dengan kekeruhan lensa mata, pembengkakan lensa yang berakhir dengan pengerutan
dan kehilangan sifat transparansinya. Pada keadaan lain katarak akibat usia
lanjut ini, kapsul lensa akan mencair membentuk cairan kental putih yang
menimbulkan peradangan hebat jika kapsul lensa mengalami rupture dan cairan
tersebut keluar, yang disebut katarak Morgagni.
8. Sistem
Pendengaran
a. Presbiakusis
Presbiakusis
merupakan istilah kedokteran untuk gangguan pendengaran pada lansia. Keadaan
ini biasanya terjadi pada usia 55 tahun atau lebih. Penyebab gangguan
pendengaran lainnya pada orang berusia tua antara lain karena infeksi atau
kerusakan di telinga dalam. Kemunduran pendengaran ini muncul bertahap dalam
beberapa tahun, yang mungkin tidak disadari pada awalnya. Gangguan tersebut
baru diketahui ketika pasien mengalami kesulitan mendengar suara orang
menelepon atau mengikuti pembicaraan pada kumpulan orang ramai. Teman atau
anggota family dapat terkejut karena pasien menyetel televisi terlalu keras
atau meminta pengulangan pertanyaan berkali-kali. Gangguan pendengaran ini
dapat menimbulkan keterasingan dan ketidakmampuan mendengar tanda bahaya.
9. Sistem
Endokrin
a. Diabetes
Seseorang
disebut mengidap diabetes jika terdapat kenaikan kadar gula darah yang menetap.
Penyakit ini terjadi pada segala umur, walaupun umumnya lebih sering dijumpai
pada lansia sebagai suatu penyakit kronis, yaitu sekitar 18% pada kelompok
individu berumur 65 tahun dan 25% di atas 85 tahun. Umumnya terdapat 5 tanda
gejala awal, yaitu peningkatan frekuensi berkemih, rasa haus, bertambahnya
nafsu makan, infeksi atau luka yang sukar sembuh, dan lesu. Kadang-kadang
gejala terawal berupa penglihatan yang kabur.
10. Sistem Reproduksi
a. Disfungsi Ereksi
Disfungsi
ereksi berarti kegagalan terjadinya dan ketidakmampuan mempertahankan ereksi
pada 50% usaha penetrasi pada persetubuhan. Disfungsi ereksi dapat terjadi dari
waktu ke waktu pada berbagai tingkat umur setelah dewasa. Walaupun insiden disfungsi
ereksi meningkat seiring pertambahan usia, prevalensinya mencapai sekitar 52%
pada umur antara 40-70 tahun dan meningkat pada orang yang lebih tua, yaitu
hampir mencapai 95% pada pria berumur >70 tahun, terutama dengan penyakit
penyerta seperti diabetes. Disfungsi ereksi dapat timbul akibat gangguan
vascular, neurogenik, endokrin, kelainan struktur penis, efek samping obat, dan
stress psikologis.
2.6 Diagnosa
Keperawatan Yang Sering Muncul
Berikut ini adalah diagnosa keperawatan yang sering muncul
dalam penatalaksanaan untuk menanggulangi gangguan biologis pada lansia:
1. Ketidakefektifan
bersihan jalan napas b.d. peningkatan produksi sputum, penyempitan jalan napas.
2. Ketidakefektifan
pola napas b.d. edema paru, bronkokontriksi.
3. Gangguan
pertukaran gas b.d. kerusakan alveolus.
4. Nyeri
akut b.d. peningkatan tekanan vascular serebral.
5. Inkontinensia
alvi/urine b.d. menurunnya fungsi fisiologis otot-otot sfingter karena penuaan.
6. Kelebihan
volume cairan b.d. kerusakan fungsi ginjal.
7. Defisit
volume cairan b.d. kehilangan cairan berlebihan karena diare.
8. Nyeri akut/kronis b.d. fraktur dan
spasme otot, inflamasi dan pembengkakan, distensi jaringan akibat akumulasi
cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.
9. Konstipasi
b.d. imobilitas atau terjadinya ileus (obstruksi usus).
10. Kerusakan mobilitas fisik b.d. nyeri, alat
imobilisasi, dan keterbatasan beban berat badan, deformitas skeletal.
11. Gangguan citra tubuh b.d. perubahan
kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi atau
ketidakseimbangan mobilitas.
12. Kerusakan integritas kulit
b.d. imobilisasi/tirah baring yang lama.
13. Risiko cidera b.d. rapuhnya
tulang, kekuatan tulang yang berkurang.
14. Defisit perawatan diri b.d.
kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak
atau depresi.
15. Gangguan pola tidur b.d.
nyeri, fibrosistis.
16. Kurang pengetahuan tentang
proses penyakit, prognosis, dan pengobatan akibat kurang mengingat, kesalahan
interpretasi informasi.
17. Ansietas b.d. kerusakan sensori dan kurangnya
pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.
18. Risiko cidera b.d. kerusakan
penglihatan, kesulitan keseimbangan.
19. Nyeri b.d. trauma, peningkatan
TIO, inflamasi intervensi bedah.
20. Peningkatan kadar gula darah b.d.
kerusakan insulin.
21. Risiko tinggi infeksi b.d.
perawatan luka gangren yang tidak adekuat.
22. Gangguan perfusi jaringan b.d.
penurunan suplai darah ke daerah perifer.
23. Gangguan pola seksual b.d. nyeri,
kelemahan, sulit mengatur posisi, dan kurang adekuat lubrikasi.
24. Ketidakberdayaan b.d. perubahan
fisik dan psikologis akibat penyakit.
2.7
Rencana Keperawatan
Berikut ini adalah contoh rencana keperawatan yang bisa
diberikan untuk beberapa diganosa keperawatan di atas:
1. Ketidakefektifan
bersihan jalan napas b.d. peningkatan produksi sputum, penyempitan jalan napas.
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas klien
efektif dengan kriteria hasil:
a. Klien menyatakan perasaan lega.
b. Keluarnya sputum/sekret.
c. Klien mampu melakukan batuk
efektif dan menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.
Rencana
Keperawatan:
a. Bina Hubungan Saling Percaya
R/ Terjadi keterbukaan antara perawat, pasien, serta
keluarganya.
b. Jelaskan pasien tentang kegunaan
batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di saluran
pernapasan.
R/
Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan pasien
terhadap rencana teraupetik.
c. Ajarkan pasien tentang metode yang
tepat pengontrolan batuk.
R/
Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan
frustasi.
d. Napas dalam dan perlahan saat duduk
setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
e. Lakukan pernapasan diafragma.
R/
Pernapasan diafragma menurunkan frekuensi napas dan meningkatkan ventilasi
alveolar.
f. Tahan napas selama 3-5
detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.
Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk
pendek dan kuat.
R/
Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
g. Auskultasi paru sebelum dan
sesudah pasien batuk.
R/
Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk pasien.
h. Ajarkan pasien tindakan untuk
menurunkan viskositas sekresi: mempertahankan hidrasi yang adekuat;
meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/
Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus,
yang mengarah pada atelektasis.
i. Dorong atau berikan
perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/
Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
j. Kolaborasi dengan tim
kesehatan lain, dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
1) Pemberian expectoran.
2) Pemberian antibiotika.
3) Konsul photo toraks
R/ Expextorant
untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi pasien
atas pengembangan parunya.
2. Nyeri
akut/kronis b.d. fraktur dan spasme otot, inflamasi dan pembengkakan, distensi
jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol
dengan kriteria hasil:
a. Klien menyatakan perasaan nyaman.
b. Klien menunjukkan raut wajah lega.
c. Klien menyatakan skala nyeri
berkurang.
Rencana
Keperawatan:
a. Kaji keluhan
nyeri, skala nyeri, serta catat lokasi dan intensitas, faktor-faktor yang
mempercepat, dan respon rasa sakit nonverbal.
R/
Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan efektivitas program.
b. Berikan matras/kasur
keras, bantal. Tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan.
R/
Matras yang empuk/lembut, bantal yang besar akan menjaga pemeliharaan
kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit.
Peninggian tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang nyeri.
c. Biarkan klien
mengambil posisi yang nyaman waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan
istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
R/
Pada penyakit yang berat/eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan untuk
membatasi nyeri atau cidera.
d. Tempatkan atau pantau
penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokanter, bebat atau brace.
R/
Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral.
Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri/kerusakan pada sendi. Imobilisasi yang
lama dapat mengakibatkan hilang mobilitas/fungsi sendi.
e. Anjurkan klien
untuk sering merubah posisi. Bantu klien untuk bergerak di tempat tidur, sokong
sendi yang sakit di atas dan di bawah, serta hindari gerakan yang menyentak.
R/
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
mengurangi gerakan/rasa sakit pasa sendi.
f. Anjurkan klien
untuk mandi air hangat. Sediakan waslap hangat untuk kompres sendi yang sakit.
Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
R/
Meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit, dan
menghilangkan kekakuan pada pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat
dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.
g. Berikan masase yang
lembut.
R/
Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan otot.
h. Dorong penggunaan
teknik manajemen stress, misal relaksasi progresif, sentuhan terapeutik,
biofeedback, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian
napas.
R/
Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol nyeri, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping.
i. Libatkan
dalam aktivitas hiburan sesuai dengan jadwal aktivitas klien.
R/
Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa
percaya diri dan perasaan sehat.
j. Beri obat
sebelum dilakukan aktivitas/latihan yang direncanakan sesuai dengan petunjuk.
R/
Meningkatkan relaksasi, mengurangi tegangan otot/spasme, memudahkan untuk ikut
serta dalam terapi.
3. Risiko cidera b.d.
rapuhnya tulang, kekuatan tulang yang berkurang
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami fraktur
baru dengan kriteria hasil:
a. Mempertahankan postur tubuh yang
bagus.
b. Mempergunakan mekanika tubuh yang
baik.
c. Mengonsumsi diet seimbang tinggi
kalsium dan vitamin D.
d. Rajin menjalankan latihan pembebanan
berat badan.
e. Istirahat dengan berbaring
beberapa kali sehari.
f. Berpartisipasi dalam
aktivitas di luar rumah.
g. Menciptakan lingkungan rumah yang
nyaman.
Rencana
Keperawatan:
a. Bina hubungan saling percaya.
R/ Terjadi keterbukaan antara perawat, pasien, serta
keluarganya.
b. Dorong klien untuk latihan
memperkuat otot, mencegah atrofi, dan menghambat demineralisasi tulang
progresif.
R/
Latihan fisik setiap hari, misal: berjalan kaki, olahraga ringan dapat menjaga
kekuatan dan kepadatan tulang.
c. Latihan isometrik, untuk
memperkuat otot batang tubuh.
R/
Terapi diperlukan untuk mempertahankan fungsi otot.
d. Jelaskan kepada klien pentingnya menghindari
membungkuk mendadak, melenggok, dan mengangkat beban lama.
R/
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
mengurangi gerakan/rasa sakit pasa sendi.
e. Berikan informasi bahwa aktivitas
di luar rumah penting untuk memperbaiki kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D.
R/
Vitamin D dapat membantu tulang untuk mengabsorbsi kalsium yang berguna untuk
menjaga kepadatan tulang.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses menua merupakan kombinasi dari bermacam-macam faktor
yang saling berkaitan. Fungsi masing-masing organ pada usia lanjut menurun
secara kualitatif dan kuantitatif, dan ini sudah dimulai sejak usia 30 tahun.
Telah diuraikan berbagai penyakit yang mungkin timbul pada lansia dengan
pencegahan dan penatalaksanaannya. Bagaimana menjaga kebugaran pada lansia
dengan olahraga dan pedoman umum gizi seimbang. Menjadi tua adalah proses
alamiah, tetapi tentu saja setiap orang mendambakan untuk tetap sehat di usia
tua. Hal ini sesuai dengan slogan Tahun Usia Lanjut WHO: do not put
years to life but life into years, yang artinya usia panjang tidaklah ada
artinya bila tidak berguna dan bahagia, mandiri sejauh mungkin dengan mempunyai
kualitas hidup yang baik.
3.2 Saran
Adapun
saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa.
1. Dalam membuat makalah, kelompok diharapkan
dapat menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan biologis.
2. Proses penuaan yang dialami dapat menimbulkan
berbagai masalah fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan keluarga. Oleh karena
itu perawat sebaiknya meningkatkan pendekatan-pendekatan melalui komunikasi
terapeutik, sehingga akan tercipta lingkungan yang nyaman dan kerja sama yang
baik dalam memberikan asuhankeperawatan gerontik.
3. Perawat sebagai anggota tim kesehatan yang paling
banyak berhubungan dengan pasien dituntut meningkatkan secara terus menerus
dalam hal pemberian informasi dan pendidikan kesehatan sesuai dengan latar
belakang pasien dan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medikal-Bedah, Vol. 3. Jakarta: EGC.
Lukman dan Nurna Ningsih. 2012. Asuhan
Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta:
Salemba Medika.
Nugroho, Wahjudi. 2008. Keperawatan Gerontik
& Geriatrik, Ed. 3. Jakarta: EGC.
Pudjiastuti, Sri Surini dan Budi Utomo. 2003. Fisioterapi
pada Lansia. Jakarta: EGC.
Agoes, Azwar, dkk. 2010. Penyakit di Usia Tua.
Jakarta: EGC.
disfungsi ereksi adalah gangguan seksual yang sangat ditakuti kaum pria dan dibenci wanita. Banyak pria yang lebih memilih kehilangan satu kaki mereka dari pada harus kehilangan kemampuan ereksi. Begitu pentingnya fungsi seks yang satu ini sehingga banyak orang yang rela membeli berbagai obat kuat hanya demi agar penisnya bisa ereksi lagi dengan keras.
BalasHapusJenis kebiasaan penyebab pria
Saat seorang pria menderita impotensi maka dia akan kehilangan kemampuan mendapatkan dan atau mempertahankan kekerasan ereksi. Umumnya penyebab pria impotensi adalah adanya penyakit kronis yang diderita atau bisa juga karena adanya masalah psikis seperti sedang stres atau cemas.
Penyebab lain yang jarang disadari kaum pria adalah faktor gaya hidup, beberapa kebiasaan tertentu ternyata berkontribusi dan dapat menyebabkan pria impotensi.
Di jaman serba modern seperti sekarang ini, ada banyak hal yang sebetulnya tidak sehat tapi tetap dikerjakan karena tuntutan pekerjaan. Beberapa orang lain sadar kebiasaannya tidak sehat tapi tetap melakukannya karena telah menjadi candu.
Andrologi | Mengatasi ejakulasi dini
Infeksi saluran kemih | Gangguan fungsi seksual
Andrologi | Free Chat